Sawarna, Wisata All in One
Machrus Muafi   | Sabtu, 04 Februari 2012, 18:52 WIB

Pantai berpasir putih adalah pintu masuk utama ke pantai-pantai sekitarnya. lokasinya tak jauh dari deretan homestay yang ada di seberang jembatan gantung. Dari homestay milik Pak Ade, pantai hanya berjarak 200 M. 

Pantai Sawarna menyimpan lokasi-lokasi yang memiliki pemandangan menarik. Tak hanya memiliki pasir putih di hampir sepanjang pantai, namun juga memiliki tebing-tebing tinggi serta karang-karang yang eksotis di pantai yang mengahadap ke Samudera Hindia tersebut.

Deretan kios minuman menunggu di pintu masuk pantai yang melewati kebun penduduk. Juga ada persewaan papan surfing, "70 ribu untuk long board dan 100 untuk board kecil," ujar Wandi, pesurfer lokal. 

Surfing memang menjadi penarik pertama wisatawan datang ke Sawarna. "Pertama-tama bule yang surfing diajak oleh orang sini, mereka dulu main di Cimajah." kata Mardi salah satu penjaga warung. Bule-bule itu membawa temannya untuk berselancar. Itulah awal industri wisata di Sawarna.

Rumah-rumah penduduk jadi homestay. Mereka mengutip biaya perorang, bukan kamar. Rate-nya sekitar 120-125 ribu orang/hari itu termasuk tiga kali makan. Waktu Surfing terbaik di Sawarna antara bulan Juli sampai November. Lokasinya untuk pemula di pantai pasir sedangkan yang lebih jago di pantai karang dekat Tanjung Layar.

Tanjung Layar

Lokasi pantai karang ada jika kita keluar masuk ke pantai langsung ambil ke arah kiri. Kami gabung dengan rombongan mahasiswa dari Jakarta, kebetulan mereka satu homestay dengan kami. Kami berjalan menuju ke arah Tanjung layar, ikon Sawarna. "Jangan ke benteng itu, berbahaya, bisa digulung ombak, pesar Mardi.
Memang di kiri kanan ada deretan karang yang persis tembok benteng. Benteng alami. Ombak besar musim barat menghajar karang-karang ini.
 
Tak hanya kami, ada seekor anjing kampung betina yang setia mengikuti kami. Kami panggil dia Dilla, disamakan dengan nama anjing Pandu, teman baru kami.Tanjung layar adalah karang besar yang bentuknya mirip layar perahu. "Itu juga orang Belanda yang menamai," kata Pak Ade. Terdapat deretan warung di Tanjung Layar yang lokasinya sekitar 700 M dari pantai pasir. Menuju kesan kita melalui pantai karang, deretannya pun ada yang menarik, karang-karangnya lurus. Kayak ada yang mengatur.
Selepas Tanjung Layar, kami meneruskan berjalan-jalan pantai karang yang sepertinya tak habis-habis. Jauh. Si Dilla masih tetap bersama kami yang kadang-kadang berjalanan di depan. Ujung pantai karang adalah panti berpasir lagi. Laguna Pari namanya, dari papan pengumunan jarak dari homestay ke tempat ini 2 KM. Sehat.Lokasi ini adalah pantai pendaratan perahu, selama musim barat karena ombaknya lebih ramah. Sedangkan kalau musim selatan, perahu-perahu ini akan pindah ke Pantai Sawarna.
 
Pantai ini juga bagus, tak kalah dengan pantai Sawarna. Saat akan menuju warung di depan perahu-perahu, di kejauhan nampak deratan kerbau yang mulai memasuki air. Ternyata kerbau-kerbau gembalaan Pak Ali itu memang suka mandi di laut. "Dua kali sehari, pagi dan sore mereka mandi," kata Pak Ali. Gembala kerbau seperti pak Ali cukup banyak, saat memasuki Sawarna kami juga menemui orang yang mengembalakan kerbau. Selain sebagai hewan ternak, kerbau sebagian juga masih dipakai untuk membajak sawah.
 
Saat duduk di warung, hujan deras langsung menyambut. Mie instan dan kopi jadi teman kami untuk menikmati view pantai dalam di tirai hujan. Tinggal baliknya, ternyata harus jalan lagi sekitar 1 KM. Melewati jalan setapak yang diperkeras dengan batu karang. Naik turun. Sehat pokoknya. Ojek ada cuman saat musim kemarau, kalau musim hujan begini tidak ada ojek yang berani karena licin.

Karang Bokor dan GoaSeribu Candi

Pantai Sawarna ternyata banyak menyimpan lokasi-lokasi yang memiliki pemandangan menarik. Tak hanya memiliki pasir putih di hampir sepanjang pantai, namun juga memiliki tebing-tebing tinggi serta karang-karang yang eksotis di pantai yang mengahadap ke Samudera Hindia tersebut.

Ketika berkunjung kesana, kami menyempatkan diri untuk menjelajah ujung barat dari pantai yang terletak di desa Sawarna, Kab. Bayah, Banten itu. Untuk mencapai ke ujung Barat pantai tersebut, kami harus berjuang terlebuh dahulu untuk melewati arus muara kali Sawarna yang mengalir ke arah laut. panjang  sekitar 10 M. terlihat rombongan anjing yang berenang Setelah berjalan kurang-lebuh sepanjang 3 km, kami sampai di ujung pantai tersebut.

Jajaran tebing-tebing yang tinggi di sepanjang pinggir pantai menambah kesan eksotis pantai Sawarna. Dibawah tebing-tebing tersebut terdapat 3 buah goa. Karena penasaran kami sempat masuk ke dua goa disana tanpa kawalan tour guide. Goa pertama dipenuhi dengan ribuan kelalawar yang terbang kesana kemari. Suara dari binatang yang aktif di malam hari itu sangat merdu. Tidak sampai terlalu dalam, kami memutuskan untuk keluar dan menjelajah goa satu lagi.

Goa kedua yang kami masuki memiliki pintu goa yang lumayan kecil. Hanya dibekali flash dari kamera ponsel yang terus menyala, kami juga masuk ke goa tersebut. Untuk masuk ke goa tersebut harus menunduk, namun tak lama kami menemukan sebuah ruangan besar dalam goa yang dipenuhi stalaktik dan stalakmit yang cantik. Tak sadar kami sudah masuk sangat dalam hingga mencapai ujung goa tersebut. Ternyata ujung dari goa ini adalah sekitar 200 meter dari mulut goa. Masih ada beberapa goa lain di Sawarna seperti Goa Lalay.

Meski capek karena jalan, Sawarna tempat ini tetap recommended, sebuah pengalaman menarik menjelajah lokasi-lokasi yang belum banyak diketahui orang. Ya, sepanjang hamparan pantai Sawarna memang termasuk salah satu pantai di Indonesia yang memiliki label Hidden Paradise.

Oh ya, untuk yang naik kendaraan umum dari Jakarta ke Bogor Dulu naik bus jurusan Pelabuhan Ratu. Lalu naik angkutan elf jurusan Bayah. lalu dari bayah naik ojek ke Sawarna. a Untuk bikers, silahkan bawa motor, rute terbaik adalah melewati Pelabuhan Ratu. Pemandangan terbaik masuk lewat Bayah, kita bisa melihat Sawarna dari atas.